Faktor Kerusakan

Faktor Rusaknya Terumbu Karang

Walaupun potensi sumberdaya hayati tersebut sangat kaya namun sebagian besar masyarakat yang bermukim di sekitar 6.600 desa pantai, masih berada dibawah garis kemiskinan sebagaimana hasil studi sosial ekonomi proyek MREPP tahun 1996.  Dari data tersebut terlihat bahwa rata-rata penghasilan penduduk pesisir di teluk Kotania Pulau Seram dan Pulau Ambon sekitar Rp. 475.625.- pertahun, sementara di desa pantai bagian Barat dan Selatan Pulau Lombok sekitar Rp.336.952.- pertahun.  Hal ini menjadi salah satu faktor pendorong masyarakat pesisir untuk mengeksploitasi sumberdaya kelautan melebihi daya dukungnya agar mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, atau bekerja sama dengan pedagang ikan karang.

Masalah yang lebih rumit adalah ada sekelompok masyarakat yang berpendidikan dan bermodal kuat menggunakan bahan-bahan cyanida dan bom serta didukung dengan kapal dan peralatan selam untuk mengeksploitasi sumberdaya ikan karang serta berkompetisi dengan masyarakat nelayan tradisional.  Modal dan keuntungan mereka digunakan juga untuk menetapkan kolusi dengan penguasa tertentu, sehingga bila tertangkap sering mengalami kesulitan untuk dihukum.

Ekosistem terumbu karang mempunya potensi ekonomi yang sangat besar mendorong pengambilan sumberdaya yang dikandungnya  secara berlebihan (over exploitation)serta kurang mengindahkan kaidah-kaidah konservasi.  Karena adanya asumsi bahwa sumberdaya yang berada di ekosistem terumbu karang adalah milik bersama (common property), sehingga bila mereka tidak emanfaatkannya pada saat ini, maka akan dimanfaatkan orang lain (tragedy of common).   Untuk mengeksploitasi sumberdaya hayati tersebut, sebagian besar dari mereka menggunakan racun cyanida, bahan peledak, muro ami, dan bubu yang semuanya itu merusak ekosistem terumbu karang.  Para pengguna racun Cyanida umumnya  bermaksud menangkap ikan karang untuk dipasarkan dalam keadaan hidup di negara tertentu, sehingga mereka membentuk jaringan penangkap dan pemasaran secara internasional.  Sedang ikan-ikan yang dibom biasanya mati dan mengalami kehancuran sehingga perlu dipasarkan dalam skala propinsi, regional atau nasional.

Aktivitas wisata bahari seperti penyelam juga memberikan kontribusi terhadap laju kerusakan akibat jangkar perahu atau terinjak penyelam pemula. Intensifikasi pertanian di DAS Hulu, akan meningkatkan laju erosi tanah dan sedimentasi kelaut.    Jika tidak ada ekosistem mangrove yang efektif menyerap sedimen tanah, maka proses sedimentasi ini akan menutupi permukaan karang sehingga karangnya mati.  Kegiatan pembangunan dipesisir sekitar ekosistem terumbu karang  juga menimbulkan dampak negatif yang mengganggu kelestariannya, seperti kegiatan reklamasi di Teluk Manado dan Teluk Lampung, serta daerah-daerah lainnya.

Beberapa aktivitas manusia yang dapat merusak terumbu karang:

  • Membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemaari ir laut
  • Membawa pulang ataupun menyentuh terumbu karang saat menyelam, satu sentuhan saja dapat membunuh terumbu karang
  • Pemborosan air, semakin banyak air yang digunakan maka semakin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan dibuang ke laut.
  • Pengunaan pupuk dan pestisida buatan, seberapapun jauh letak pertanian tersebut dari laut residu kimia dari pupuk dan pestisida buatan pada akhinya akan terbuang ke laut juga.
  • Membuang jangkar pada pesisir pantai secara tidak sengaja akan merusak terumbu karang yang berada di bawahnya.
  • penambangan
  • pembangunan pemukiman
  • reklamasi pantai
  • olusi

Terumbu Rusak akibat pembomman ikan

  • penangkapan ikan dengan cara yang salah, seperti pemakaian bom ikan

Faktor yang dapat merusak terumbu karang diantaranya adalah :

  • Pengendapan kapur                                                                                      Pengendapan kapur dapat berasal dari penebangan pohon yang dapat  mengakibatkan pengikisan tanah (erosi)  yang akan terbawa kelaut dan  menutupi karang sehingga karang tidak dapat tumbuh karena sinar matahari  tertutup oleh sedimen.
  • Aliran air tawar                                                                                                            Aliran air tawar yang terus menerus dapat membunuh karang, air tawar  tersebut dapat berasal dari pipa pembuangan, pipa air hujan ataupun limbah  pabrik yang tidak seharusnya mengalir ke wilayah terumbu karang.
  • Berbagai jenis limbah dan sampah                                                                                Bahan pencemar bisa berasal dari berbagai sumber, diantaranya adalah limbah    pertanian, perkotaan, pabrik, pertambangan dan perminyakan.
  • Pemanasan suhu bumi                                                                                                         Pemanasan suhu bumi dikarenakan pelepasan karbon dioksida (CO2) ke udara.  Tingginya kadar CO2 diudara berpotensi meningkatan suhu secara global. yang  dapat mengakibatkan naik nya suhu air laut sehingga karang menjadi memutih  (bleaching) seiring dengan  perginya zooxanthelae dari jaringan kulit karang, jika  terjadi terus menerus maka pertumbuhan terumbu karang terhambat dan akan  mati.
  • Uji coba senjata militer                                                                                        Pengujian bahan peledak dan nuklir di laut serta kebocoran dan buangan reaktor  nuklir menyebabkan radiasi di laut, bahan radio aktif tersebut dapat bertahan  hingga ribuan tahun yang berpotensi meningkatkan jumlah kerusakan dan  perubahan genetis (mutasi) biota laut.
  • Cara tangkap yang merusak                                                                                        Cara tangkap yang merusak antara lain penggunaan muro-ami, racun dan bahan  peledak.
  • Penambangan dan pengambilan karang                                                                      Pengambilan dan penambangan karang umumnya digunakan sebagai bahan  bangunan. Penambangan karang berpotensi menghancurkan ribuan meter  persegi terumbu dan mengubah terumbu menjadi gurun pasir bawah air.
  • Penambatan jangkar dan berjalan pada terumbu                                                  Nelayan dan wisatawan seringkali menambatkan jankar perahu pada terumbu  karang. Jangkar yang dijatuhkan dan ditarik diantara karang maupun hempasan  rantainya yang sangat merusak koloni karang.
  • Serangan bintang laut berduri                                                                              Bintang laut berduri adalah sejenis bintang laut besar pemangsa karang yang  permukaanya dipenuhi duri. Ia memakan karang dengan cara manjulurkan  bagian perutnya ke arah koloni karang, untuk kemudian mencerna dan  membungkus  polip-polip karang dipermukaan koloni tersebut.


Predator Pemakan Karang

  • Pemanfaatan sumber daya laut secara berlebihan.                                              Adanya beberapa jenis biota laut diterumbu bisa jadi merupakan faktor penentu  kesehatan dan faktor penentu kesehatan dan kelangsungan hidup koloni karang.

Sumber terbesar dari kematian terumbu masif adalah perusakan mekanik oleh badai tropik yang hebat. Topan atau angin puyuh yang kuat ketika melalui suatu wilayah terumbu sering merusak daerah yang luas di terumbu karang. Sumber kedua terbesar yang menyebabkan bencana kematian terumbu, adalah ledakan Acanthaster planci (bintang bulu seribu) akibat adanya kegiatan pengerukan dan beberapa bahan kimia (pestisida) membuka ruangan baru bagi Acanthaster planci muda, ledakan populasi juga diakibatkan oleh kegiatan manusia yang memindahkan predator utama bulu seribu yaitu Charonia tritonis untuk diambil cangkangnya (Nybakken 1988).Predator Karang

Kegiatan manusia secara langsung dapat menyebabkan bencana kematian di terumbu melalui penggalian dan pencemaran (Nybakken 1988). Berdasarkan analisis Burke, dkk. (2002) 25% kerusakan terumbu karang diakibatkan oleh pembangunan pesisir, 7% diakibatkan oleh pencemaran, 21% diakibatkan oleh sedimentasi, 64% akibat penangkapan yang berlebihan, 54% akibat penangkapan ikan dengan melakukan pengrusakan, 18% diakibatkan oleh pemutihan terumbu karang.

Penyakit yang biasanya menyerang karang disebut sebagai White band disease dan Blank band disease atau penyakit gelang putih, ditandai dengan memutihnya sebagian koloni terumbu. Hal ini disebabkan oleh serangan bakteri. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dipicu oleh kondisi lingkungan yang tidak normal seperti pencemaran dan kenaikan suhu air laut (Akmal 2002).

Kerusakan yang di sebabkan penyakit/bakteriTerumbu karng yang rusak akibat sters

Beban nutrient yang berlebihan menyebabkan berkembangnya alga secara berlebihan (eutrofikasi) sehingga dapat menutupi dan membunuh organisme coral atau timbulnya blooming dari fitoplakton (Dahuri, dkk 2004) Akmal (2002) mengungkapkan hubungan antara pemanasan global, penipisan ozon dan terumbu karang mengakibatkan tingkat karbondioksida meningkat secara kimiawi akan menghambat pertumbuhan bunga karang oleh polip-polip. Perubahan suhu menimbulkan pemutihan karang pada musim panas.

2 Balasan ke Faktor Kerusakan

  1. Ahmad Ns berkata:

    Yang saya tanyakan
    1. Kenapa sentuhan dapat membunuh terumbu ?
    2. Di teluk saleman/sawai, seram utara barat menjadi muara dr beberapa sungai permukaan dan sungai bwah tanah yg besar debitny dg suhu yg terasa dingin seperti air pegunungan krna bentang lahan di pantai merupakan karst. Tp sya lihat msh terdapat kehidupan di sekitar muara tersebut. Skitar 100 m dr lokasi muara kondisi mulai normal. Kira2 kondisi alamiah ini membahayakan kehidupan terumbu tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s